Waking the 3B - Endangered Triplet thet Rationally Vital
words by Gandrasta Bangko - le mariage free magazine May 2007
Banyak ragam adat yang sudah mati atau ditinggalkan begitu saja sejak
kita menginjak tanah urban yang dinamis. Saya akan membawa salah satu
pusaka warisan yang hampir terkubur kembali ke dunia. Ia adalah 3B : bibit,
bobot, dan bebet. Ya, tentu anda sudah pernah mendengarnya. Bisa jadi
anda mengerutkan dahi atau memandang sinis istilah kuno ini. Sebagian
mungkin juga beranggapan buruk terhadap saya yang sok jawa ini.
Istilah ini pernah jadi juri yang kuat di masa lampau. Saking kuatnya,
calon pengantin merasa tidak tahan terhadap ketiga juri ini. Mereka mengeluhkan
kesulitan yang timbul akibat seleksi yang diisyaratkan sang juri. Masalahnya,
yang menjadi hakim adalah kedua orang calon pengantin. Dan kebanyakan
dari mereka, dulu, memegang teguh apa yang dikatakan juri – juri
tadi. Dari sini, atas nama cinta pula orang tua manut saja. Akhirnya,
bibit, bobot dan bebet menjadi istilah hambar dan leceh. Sekarang, tidak
ada lagi yang menganut pertimbangan yang dibuat oleh ketiga juri ini.
Kalaupun ada, mereka beresiko dicurigai sebagai ‘kolot’ atau
berlebihan. Beberapa bahkan menganggapnya sebagai momok jahat yang harus
dimusnahkan. Ia adalah monster yang mengancam cinta sepasang kekasih.
Saya menganggap ada kesalahpahaman disini – minimal 3B terkena gosip
miring sampai citranya jatuh.
BIBIT
Juri pertama ini mengharuskan seorang calon suami atau istri memiliki
kesehatan lahir dan batin. Pendekatannya kelas, mental dan fisik seseorang
harus diobservasi sedemikian rupa hingga jatuh pada putusan yang tepat.
Observasi inilah yang sukar dijalankan. Ia harus merupakan kelompok kerja
antara calon pengantin, orang tua, keluarga, dan kawan kawan dekatnta.
Kesempurnaan dari putusan itu nantinya berupa kompromi antar beberapa
anggota kelompok kerja. Si juri (bibit) cukup memberi arahan ke mana sebaiknya
observasi berjalan. Alasannya tidak buruk, kecuali kalau anda berniat
menikahi juara Para Olympic atau Cho Seung hui – dan anda menyatakan
mencintai mereka sepenuh hati.
BOBOT
Juri kedua mengharuskan seorang calon suami atau istri memiliki budi pekerti
dan sifat – sifat yang terpuji. Siapa yang keberatan dengan ini?
Saya berani mengatakan kalau yang satu ini adalah mutlak. Syarat implisit
yang juga terkandung di ‘bobot’ adalah kemampuan seseorang
mengemban tanggung jawab sebagai suami atau istri. Ya! Ini syarat ekonomi.
Disini sebagian orang akan berkeras untuk melupakannya. Sayangnya faktor
kemampuan ekonomi membangun keluarga adalah penting. Dan ia memegang peran
hampir 70% dari kasus perceraian. Artinya dibutuhkan komitmen baik itu
jiwa, raga juga harta untuk membangun suatu ikatan perkawinan. Dari sini
ada baiknya mulai memikirkan prenuptial agreement sebelum terlambat. Terlalu
banyak contoh buruk tanpa juri ‘bobot’. Saya tidak bisa membela
anda-kenapa anda menikah kalau begitu?
BEBET
Juri terakhir mengharuskan seorang calon suami atau istri adalah keturunan
orang baik – baik. Baiklah, anda menganggap juri ‘bebet’
sebagai kebodohan kuno. Juri yang satu ini juga entah dari mana asalnya,
sering diplesetkan sebagai: ‘memiliki keluarga yang kaya dan berada’.
Tidak terlalu salah, tidak juga benar. Kekayaan dan keberadaan orang tua
menunjukan perjuangan besar keturunan mereka dimasa lampau, dan ini adalah
indikasi baik terhadapanak cucunya. Tidak terlalu benar karena orang kaya
belum tentu orang baik ya! Dia maksud saya. Kalau orang tua dulu belum
bisa menerjemahkan pesan juri ‘bebet’ ini secara ilmiah, kini
Matt Ridley lewat bukunya Genome: The Autobiography of a Species in 23
Chapters, menjelaskannya secara gamblang. Ia membuktikan peran gen dan
kromosomdalam heriditas genomial manusia menurunkan sifat – sifat
dan karakter seseorang. Apa yang dimiliki si Ayah bisa jadi diwariskan
pada putranya. Kalau begitu segera putuskan dia. Dia kan anak koruptor!
Memang tidak ada yang bisa menjamin 3B akan meningkatkan kualitas pernikahan
seseorang. Tidak ada yang bisa membuktikan kalau 3B perlu dan signifikan
sebagai prasyarat pernikahan. Namun demikian, tidak juga ada jaminan tanpa
3B kehidupan pernikahan seseorang berjalan lebih baik.
|